Kamis, 20 November 2014

The Fake Vacancy Advertisement. Be aware!!!

Gaes, aku mau sharing dikit nih tentang modus penipuan mengatasnamakan suatu perusahaan berkedok mencari tenaga kerja. Iya, gambar ini aku dapet dari internet (olx.co.id), dari awal aku emang udah curiga kalo ini fake job advertising. 

Kenapa aku curiga? Soalnya kalo diliat dari format kalimatnya sama sekali gada kesan profesionalisme sama sekali, bahasanya sederhana banget pun. Udah gitu nggak jelas itu kapan penutupan pendaftarannya, terus di kolom alamat nggak nyantumin no.fax. Makin penasaran akhirnya aku nyoba ngikutin maunya iklan tsb, aku kirim CV dan kelengkpan berkas lain ke email tsb, dan nggak lama sekitar sehari setelahnya aku ditelfon yg ngakunya pihak HRD dari perusaan terkait. Ditelfon loh gaes ditelfon! Bayangin aja masa perusaan sebesar itu mau open rekruitmen tenaga kerja baru malah dari pihak sana yg ngubungin duluan. Dia ngasih tau kalo pihak perusahaan udah ngirim email balesan ke emailku dan mereka nyuruh aku ngecek emailku. 

Pas aku buka emailku ternyata emang beneran mereka ngirim surat pernyataan kalo berkas ku memenuhi buat ikut seleksi selanjutnya. Nah! Konten surat pernytaan yg berisi 11 halaman ini ngejelasin prosedur kegiatan selama seleksi. Niat banget mereka bikinnya sampe 11 halaman. Tapi anehnya, mereka nyuruh aku buat konfirmasi kebersediaan mengikuti seleksi dg mengirimkan sms yg formatnya intinya suruh nyantumin kode reservasi, kode reservasi adalah kode booking transportasi yg harus dibayar terlebih dahulu dan akan diganti saat kegiatan seleksi dilakasanan. Pihak perusahaan mengaku telah bekerjasama dengan pihak tour and travel untuk bisa memfasilitasi calon tenaga kerja. Makin besar kecurigaanku akhirnya aku nanya dulu berapa uang yg harus ditransfer untuk bisa booking reservasi yg nantinya (katanya) akan diganti oleh perusahaan. Dan dari pihak tour and travel mengatakan biaya yg harus aku keluarin itu 3 juta berapa gitu. Ini jumlah yg fantastis loh gaes! Untuk meyakinkan diri bahwa ini penipuan maka aku nyoba minta kelongggaran waktu untuk bisa ngasih kepastian dan ini berarti aku gak nurutin batas yg ditentukan dimana 10 jam setelah telfon pemeberitahuan itu udah harus ngirim sms konvirmasi yg mengandung kode verivikasi yg didapetin dari booking reservasi yg sebelumnya harus mentransfer uang yg aku sebutkan tadi. Pas aku minta kelonggaran waktu ternyta pihak sang penipu meng-IYA-kan mau ku. Parah? banget! Logikanya sebuah perusahaan besar ga akan dong sefleksibel itu dan kalo ngasih pemberitahuan ya ga pake ketentuan kita harus konfirmasi kedatangan, kata temenku yg udah pengalaman sama dunia per-lamaran kerja-an, orang mah kalo disuruh seleksi ya tinggal dateng aja, gapake konfirmasi kehadiran segala. See? 

Terus, aku coba mengamati isi surat pemberitahuan yg dikirim ke emailku tadi, gaes. Di kop suratnya pun keliatan banget hasil crop edit, dan bagian tanda tangan juga aneh. 
Yah gitu aja udah cukup banget ngebuktiin kalo ini penipuan.  alhamdulillah rasa penasaranku sama kronologis penipuan macem gini sirna sudah. Kalian hati-hati ya gaes... Jangan gampang percaya apalagi kalo pihak sana bolak balik tefon, wajar sih... namanya juga orang butuh duit. Ye kan?
Bhay! Semoga kita cepet dapet kerjaan yg berkah. Aamiin.

Jumat, 26 Juli 2013

Wajah Baru Dunia Kesehatan Indonesia

Dunia kesehatan memasuki babak baru dalam dimensi pembangunan dewasa ini, ini terlihat dari besarnya perhatian public terhadap bidang kesehatan, khususnya aspek pembiayaan kesehatan. Tak dipungkiri mahalnya biaya kesehatan menjadi alasan dibalik sikap tersebut. Puncaknya adalah saat disahkannya Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) delapan tahun silam. Namun ternyata upaya tersebut tak berjalan mulus seperti yang diperkirakan banyak pihak. Benturan kepentingan mengakibatkan terjadinya stagnasi pasca disahkannya Undang undang tersebut. 7 tahun berlalu, barulah semangat yang sempat “mati suri” itu hidup kembali dan mencapai klimaks ketika disahkannya Undang-Undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). Universal Coverage menjadi Euforia kemenangan berbagai pihak yang berjuang mengawal pengesahan UU tersebut, mulai para akademisi, praktisi, politisi, dan pekerja sektor non formal. Luapan ekspresi kegembiraan itu menjadi headline news di berbagai media nasional. Berbagai polemik pro dan contra dari pengesahan Undang-Undang No. 24 tersebut tak lagi dihiraukan. Public larut dalam euforia kemenangan dan babak baru pembangunan dunia kesehatan di Indonesia akhirnya dimulai. 


Pasca Pengesahan UU BPJS; What Next ?

Mayoritas Public beranggapan bahwa setelah ditetapkannya UU BPJS tersebut maka beragam persoalan menyangkut dunia kesehatan dengan sendirinya juga telah selesai. UU BPJS dianggap seolah menjadi “juru selamat” berbagai persoalan kesehatan. Disadari atau tidak, dunia kesehatan tidak hanya menyangkut masalah jaminan pembiayaan, lebih dari itu masalah lain seperti derajat kesehatan di berbagai sektor antara lain lingkungan sehat, lalu lintas sehat, serta industri sehat juga menjadi persoalan yang mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Paradigma sakit yang hari ini digunakan sebagai pendekatan orientasi kebijakan kesehatan di Indonesia juga bisa menjadi ancaman tersendiri bagi ketersediaan anggaran untuk jaminan pembiayaan kesehatan pada saat dijalankannya UU BPJS 2014 nanti. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah sistem pelayanan kesehatan dan sistem pembiayaan secara paralel sehingga social coverage tidak menjadi masalah baru yang mengancam dan berpotensi membahayakan kondisi perekonomian bangsa.


Langkah menuju universal coverage jaminan kesehatan 2014

Terdapat tiga aspek cakupan universal coverage yang saat ini menjadi persoalan mendasar dan mendesak untuk segera diselesaikan, yaitu masalah kepesertaan, fasilitas layanan kesehatan, serta pembiayaan. Menyangkut persoalan kepesertaan, dalam universal coverage setiap penduduk “otomatis” menjadi peserta yang berhak mendapatkan jaminan kesehatan, artinya 237,6 juta jiwa penduduk Indonesia wajib tercakup dalam kepesertaan. Saat ini tercatat sebanyak 121,2 juta jiwa penduduk yang telah memiliki jaminan kesehatan baik itu berupa askes, jamsostek, jamkesmas, asabri, dll. Berarti masih terdapat 116,4 juta jiwa penduduk yang belum mempunyai jaminan kesehatan. Perluasan kepesertaan merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Dalam aspek fasilitas layanan kesehatan, standarirasi mutu pelayanan di fasilitas kesehatan merupakan masalah baru dan mendesak untuk diselesaikan, khususnya soal ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Masalah seperti perbandingan jumlah puskesmas, jumlah dokter umum, tenaga farmasi, serta tenaga medis lainnya dengan penduduk juga perlu segera dicari solusi penyelesaiannya. Sehingga pelayanan kesehatan yang berkeadilan, merata dan tanpa diskriminasi bisa segera terwujud.


Dalam aspek pembiayaan, persoalan besaran iuran untuk biaya kesehatan per jiwa masih menjadi perdebatan antara pemerintah, sektor pekerja non formal, maupun praktisi kesehatan. Bahkan organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat mengancam akan melakukan mogok nasional jika besaran iuran yang mereka ajukan tidak disetujui pemerintah. IDI mengsuslkan angka Rp. 60.000,- per jiwa, dari besaran iuran yang ditawarkan pemerintah lewat Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar Rp. 27.000,-. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dicarikan solusinya.


Utopia kesejahteraan di era universal coverage

Indonesia di era SJSN dan BPJS merupakan sebuah bangsa dengan cerminan kesejahteraan public, khususnya di bidang kesehatan. Di era ini tak ada lagi orang miskin yang mendapat perlakuan diskrimasi dari rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya perawatan, tak ada lagi orang tua yang menggendong jenazah anaknya karena tak mampu membayar biaya ambulans. Di era ini, fasilitas kesehatan dan tenaga medis telah terdistribusi secara merata hingga ke pelosok negeri. Indonesia di era ini merupakan sebuah potret ideal yang menggambarkan sisi manusiawi dari dunia kesehatan, sisi kehidupan yang hilang disaat pembiayaan telah menjadi sangat dominan akibat hegemoni liberalisasi ekonomi dalam dunia kesehatan Indonesia.

Sumber:
 Kompasiana - medis 

About

Recent comments

Kamis, 20 November 2014

The Fake Vacancy Advertisement. Be aware!!!

Gaes, aku mau sharing dikit nih tentang modus penipuan mengatasnamakan suatu perusahaan berkedok mencari tenaga kerja. Iya, gambar ini aku dapet dari internet (olx.co.id), dari awal aku emang udah curiga kalo ini fake job advertising. 

Kenapa aku curiga? Soalnya kalo diliat dari format kalimatnya sama sekali gada kesan profesionalisme sama sekali, bahasanya sederhana banget pun. Udah gitu nggak jelas itu kapan penutupan pendaftarannya, terus di kolom alamat nggak nyantumin no.fax. Makin penasaran akhirnya aku nyoba ngikutin maunya iklan tsb, aku kirim CV dan kelengkpan berkas lain ke email tsb, dan nggak lama sekitar sehari setelahnya aku ditelfon yg ngakunya pihak HRD dari perusaan terkait. Ditelfon loh gaes ditelfon! Bayangin aja masa perusaan sebesar itu mau open rekruitmen tenaga kerja baru malah dari pihak sana yg ngubungin duluan. Dia ngasih tau kalo pihak perusahaan udah ngirim email balesan ke emailku dan mereka nyuruh aku ngecek emailku. 

Pas aku buka emailku ternyata emang beneran mereka ngirim surat pernyataan kalo berkas ku memenuhi buat ikut seleksi selanjutnya. Nah! Konten surat pernytaan yg berisi 11 halaman ini ngejelasin prosedur kegiatan selama seleksi. Niat banget mereka bikinnya sampe 11 halaman. Tapi anehnya, mereka nyuruh aku buat konfirmasi kebersediaan mengikuti seleksi dg mengirimkan sms yg formatnya intinya suruh nyantumin kode reservasi, kode reservasi adalah kode booking transportasi yg harus dibayar terlebih dahulu dan akan diganti saat kegiatan seleksi dilakasanan. Pihak perusahaan mengaku telah bekerjasama dengan pihak tour and travel untuk bisa memfasilitasi calon tenaga kerja. Makin besar kecurigaanku akhirnya aku nanya dulu berapa uang yg harus ditransfer untuk bisa booking reservasi yg nantinya (katanya) akan diganti oleh perusahaan. Dan dari pihak tour and travel mengatakan biaya yg harus aku keluarin itu 3 juta berapa gitu. Ini jumlah yg fantastis loh gaes! Untuk meyakinkan diri bahwa ini penipuan maka aku nyoba minta kelongggaran waktu untuk bisa ngasih kepastian dan ini berarti aku gak nurutin batas yg ditentukan dimana 10 jam setelah telfon pemeberitahuan itu udah harus ngirim sms konvirmasi yg mengandung kode verivikasi yg didapetin dari booking reservasi yg sebelumnya harus mentransfer uang yg aku sebutkan tadi. Pas aku minta kelonggaran waktu ternyta pihak sang penipu meng-IYA-kan mau ku. Parah? banget! Logikanya sebuah perusahaan besar ga akan dong sefleksibel itu dan kalo ngasih pemberitahuan ya ga pake ketentuan kita harus konfirmasi kedatangan, kata temenku yg udah pengalaman sama dunia per-lamaran kerja-an, orang mah kalo disuruh seleksi ya tinggal dateng aja, gapake konfirmasi kehadiran segala. See? 

Terus, aku coba mengamati isi surat pemberitahuan yg dikirim ke emailku tadi, gaes. Di kop suratnya pun keliatan banget hasil crop edit, dan bagian tanda tangan juga aneh. 
Yah gitu aja udah cukup banget ngebuktiin kalo ini penipuan.  alhamdulillah rasa penasaranku sama kronologis penipuan macem gini sirna sudah. Kalian hati-hati ya gaes... Jangan gampang percaya apalagi kalo pihak sana bolak balik tefon, wajar sih... namanya juga orang butuh duit. Ye kan?
Bhay! Semoga kita cepet dapet kerjaan yg berkah. Aamiin.

Jumat, 26 Juli 2013

Wajah Baru Dunia Kesehatan Indonesia

Dunia kesehatan memasuki babak baru dalam dimensi pembangunan dewasa ini, ini terlihat dari besarnya perhatian public terhadap bidang kesehatan, khususnya aspek pembiayaan kesehatan. Tak dipungkiri mahalnya biaya kesehatan menjadi alasan dibalik sikap tersebut. Puncaknya adalah saat disahkannya Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) delapan tahun silam. Namun ternyata upaya tersebut tak berjalan mulus seperti yang diperkirakan banyak pihak. Benturan kepentingan mengakibatkan terjadinya stagnasi pasca disahkannya Undang undang tersebut. 7 tahun berlalu, barulah semangat yang sempat “mati suri” itu hidup kembali dan mencapai klimaks ketika disahkannya Undang-Undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). Universal Coverage menjadi Euforia kemenangan berbagai pihak yang berjuang mengawal pengesahan UU tersebut, mulai para akademisi, praktisi, politisi, dan pekerja sektor non formal. Luapan ekspresi kegembiraan itu menjadi headline news di berbagai media nasional. Berbagai polemik pro dan contra dari pengesahan Undang-Undang No. 24 tersebut tak lagi dihiraukan. Public larut dalam euforia kemenangan dan babak baru pembangunan dunia kesehatan di Indonesia akhirnya dimulai. 


Pasca Pengesahan UU BPJS; What Next ?

Mayoritas Public beranggapan bahwa setelah ditetapkannya UU BPJS tersebut maka beragam persoalan menyangkut dunia kesehatan dengan sendirinya juga telah selesai. UU BPJS dianggap seolah menjadi “juru selamat” berbagai persoalan kesehatan. Disadari atau tidak, dunia kesehatan tidak hanya menyangkut masalah jaminan pembiayaan, lebih dari itu masalah lain seperti derajat kesehatan di berbagai sektor antara lain lingkungan sehat, lalu lintas sehat, serta industri sehat juga menjadi persoalan yang mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Paradigma sakit yang hari ini digunakan sebagai pendekatan orientasi kebijakan kesehatan di Indonesia juga bisa menjadi ancaman tersendiri bagi ketersediaan anggaran untuk jaminan pembiayaan kesehatan pada saat dijalankannya UU BPJS 2014 nanti. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah sistem pelayanan kesehatan dan sistem pembiayaan secara paralel sehingga social coverage tidak menjadi masalah baru yang mengancam dan berpotensi membahayakan kondisi perekonomian bangsa.


Langkah menuju universal coverage jaminan kesehatan 2014

Terdapat tiga aspek cakupan universal coverage yang saat ini menjadi persoalan mendasar dan mendesak untuk segera diselesaikan, yaitu masalah kepesertaan, fasilitas layanan kesehatan, serta pembiayaan. Menyangkut persoalan kepesertaan, dalam universal coverage setiap penduduk “otomatis” menjadi peserta yang berhak mendapatkan jaminan kesehatan, artinya 237,6 juta jiwa penduduk Indonesia wajib tercakup dalam kepesertaan. Saat ini tercatat sebanyak 121,2 juta jiwa penduduk yang telah memiliki jaminan kesehatan baik itu berupa askes, jamsostek, jamkesmas, asabri, dll. Berarti masih terdapat 116,4 juta jiwa penduduk yang belum mempunyai jaminan kesehatan. Perluasan kepesertaan merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Dalam aspek fasilitas layanan kesehatan, standarirasi mutu pelayanan di fasilitas kesehatan merupakan masalah baru dan mendesak untuk diselesaikan, khususnya soal ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Masalah seperti perbandingan jumlah puskesmas, jumlah dokter umum, tenaga farmasi, serta tenaga medis lainnya dengan penduduk juga perlu segera dicari solusi penyelesaiannya. Sehingga pelayanan kesehatan yang berkeadilan, merata dan tanpa diskriminasi bisa segera terwujud.


Dalam aspek pembiayaan, persoalan besaran iuran untuk biaya kesehatan per jiwa masih menjadi perdebatan antara pemerintah, sektor pekerja non formal, maupun praktisi kesehatan. Bahkan organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat mengancam akan melakukan mogok nasional jika besaran iuran yang mereka ajukan tidak disetujui pemerintah. IDI mengsuslkan angka Rp. 60.000,- per jiwa, dari besaran iuran yang ditawarkan pemerintah lewat Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebesar Rp. 27.000,-. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dicarikan solusinya.


Utopia kesejahteraan di era universal coverage

Indonesia di era SJSN dan BPJS merupakan sebuah bangsa dengan cerminan kesejahteraan public, khususnya di bidang kesehatan. Di era ini tak ada lagi orang miskin yang mendapat perlakuan diskrimasi dari rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya perawatan, tak ada lagi orang tua yang menggendong jenazah anaknya karena tak mampu membayar biaya ambulans. Di era ini, fasilitas kesehatan dan tenaga medis telah terdistribusi secara merata hingga ke pelosok negeri. Indonesia di era ini merupakan sebuah potret ideal yang menggambarkan sisi manusiawi dari dunia kesehatan, sisi kehidupan yang hilang disaat pembiayaan telah menjadi sangat dominan akibat hegemoni liberalisasi ekonomi dalam dunia kesehatan Indonesia.

Sumber:
 Kompasiana - medis 

Pages

Copyright Text